Rabu, 14 Maret 2012

Masa Kolonisasi VOC dan Belanda di Indonesia | Sejarah

Masa Kolonisasi VOC dan Belanda di Indonesia | Sejarah


Kolonisasi VOC (Verenigde Oostindische Compagnie)
Setelah Portugis sampai di Nusantara, pertama kali di Malaka, kedatangannya kurang disambut hangat oleh bangsaIndonesia. Akibatnya, Alfonso d’ lberqueque melancarkan upaya balas dendam ke Malaka dan tahun 1511 berhasil ditaklukkan.

Setelah bangsa Portugis tiba di Nusantara, datang pula bangsa Spanyol, yang juga melakukan pelayaran samudra (malakukan pelayaran jalur barat). Armada Spanyol sampai di Maluku tahun 1521 dipimpin oleh Belcano (yang menggantikan Magellan yang terbunuh di Filipina). Setelah kesuksesan kedua negara ini, Inggris juga melakukan ekspedisi ke Nusantara dan sampai tahun 1604 di Ternate.

Sedangkan Belanda, yang sampai lebih dulu dibanding Inggris, memulai ekspedisi tahun 1595 dan tiba di Banten tahun 1596. Tapi sayang, kedatangannya tidak mendapat sambutan hangat dari masyarakat Banten. Melakuakan ekspedisi kedua lagi tahun 1598 di bawah pimpinan Jacob van Neck, kali ini sambutan yang didapat cukup baik.

Belanda setelah itu langsung mendirikan perusahaan/organisasi dagang di Indonesia. Berrnama VOC pada tahun 1602. Tujuan dibentuknya VOC ini ialah untuk menguasai monopoli perdagangan di Indonesia. Karena, sejak kedatangan bangsa Belanda di Indonesia, banyak pedagang-pedagang Belanda yang datang di Indonesia untuk membeli rempah-rempah yang saat itu memang sangat terkenal sekali di Eropa (sebelum jalur Konstantinopel dikuasai Ottoman, bangsa Belanda sudah mengenal rempah-rempah Asia. Tapi tidak tahu darimana rempah-rempah itu berasal. Setelah jalur perdagangan itu terputus, bangsa Eropa menjadi bersemangat untuk melakukan penejelajahan samudra untuk menemukan sumber rempah-rempah tersebut).

Karena banyaknya bangsa Eropa yang datang di Indonesia, menyebabkan bangsa Indonesia untung, karena dengan begitu mereka bisa menawarkan harga rempah-rempah setinggi-tingginya pada bangsa Eropa yang akan membeli rempah-rempah mereka. Namun dengan adanya VOC, harga rempah-rempah dapat ditentukan dengan bebas oleh bangsa Belanda. VOC juga didirikan untuk menghindari persaingan dagang di Nusantara oleh bangsa Eropa.

Eropa saat itu sedang mengaplikasikan sistem ekonomi merkantilisme, yaitu sistem ekonomi yang melibatkan pemerintah secara langsung, begitu pula dengan Belanda. Dengan adanya sistem ekonomi merkantilisme ini, menyebabkan pemerintah Belanda turut campur dengan perekonomian di Indonesia. Muncul hak oktori (hak istimewa), yaitu hak yang diberikan oleh pemerintah Belanda kepada VOC.

Hak-hak tersebut meliputi pembentukan militer, monopoli dagang, mencetak uang, pendirian benteng, serta perjanjian dengan raja-raja di nusantara.Selain memonopoli perdagangan, VOC juga melakukan perluasan wilayah dengan mengalahkan kerajaan-kerajaan di sekitar Banten. Setelah kerajaan tersebut kalah, maka raja tersebut dipaksa untuk membuat perjanjian yang intinya kerajaan tersebut takluk dibawah kekuasaan VOC. Meskipun begitu, kerajaan tersebut tetap berdiri seperti biasa, hanya saja kedaulatan yang ada hilang. Karena itulah, sampai sekarang masih ada kerajaan-kerajaan yang berdiri di bawah pemerintahan RI (contoh keraton Jogja).

Kekuasaan VOC di Indonesia ini bertahan hingga dua abad lamanya. Dari tahun 1602 – 1799. Tanggal 31 Desember 1799, pemerintah Belanda  membubarkan VOC (sebenarnya bukan dibubarkan, hanya menghilangkan atau mencabut hak oktori yang ada. Sehingga secara tidak langsung kekuasaan VOC di Indonesia pun menghilang).

Banyak faktor-faktor yang menyebabkan dibubarkannya VOC. Karena seperti rezim-rezim kebanyakan, yang akan runtuh ketika terlalu lama berkuasa.Yang paling menonjol ialah karena banyak pegawai VOC sendiri yang melakukan korupsi. Sehingga menyebabkan VOC mengalami kesulitan keuangan, juga disebabkan oleh biaya pegawai-pegawai yang sangat tinggi. Sedangkan pengeluaran Belanda lainnya juga banyak, seperti biaya perang melawan Inggris juga perang yang terjadi di Indonesia sendiri untuk keperluan perluasan wilayah dan daerah-daerah lain yang menyerang. Faktor lain ialah banyaknya hutang, dan adanya saingan dengan kongsi dagang lainya (seperti EIC). Belanda sendiri juga menilai, bahwa VOC tidak mampu memimpin Indonesia lagi, Belanda takut, jika kekuasaan VOC tetap dilanjutkan, bisa-bisa Indonesia jatuh ke tangan bangsa Eropa lainnya yang juga sama-sama mengincar Indonesia. Karena itu lebih baik kekuasaan di Indonesia dipegang langsung oleh Belanda.

Dengan begitu, setelah kekuasaan VOC berakhir di Indonesia, Belanda mengangkat seorang gubernur jendral untuk memimpin/mengatur Indonesia dibawah kekuasaan negara Belanda. Pada awal abad ke-19 itulah, kolonialisme Belanda di Indonesia dimulai.



Kolonisasi pemerintah Belanda


Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir abad ke-18 dan setelah kekuasaan Britania yang pendek di bawah Thomas Stamford Raffles, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun 1816. Sebuah pemberontakan di Jawa berhasil ditumpas dalam Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830. Setelah tahun 1830 sistem tanam paksa yang dikenal sebagai cultuurstelsel dalam bahasa Belanda mulai diterapkan. Dalam sistem ini, para penduduk dipaksa menanam hasil-hasil perkebunan yang menjadi permintaan pasar dunia pada saat itu, seperti teh, kopi dll. Hasil tanaman itu kemudian diekspor ke mancanegara. Sistem ini membawa kekayaan yang besar kepada para pelaksananya - baik yang Belanda maupun yang Indonesia. Sistem tanam paksa ini adalah monopoli pemerintah dan dihapuskan pada masa yang lebih bebas setelah 1870.

Pada 1901 pihak Belanda mengadopsi apa yang mereka sebut Politik Etis (bahasa Belanda: Ethische Politiek), yang termasuk investasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orang-orang pribumi, dan sedikit perubahan politik. Di bawah gubernur-jendral J.B. van Heutsz pemerintah Hindia-Belanda memperpanjang kekuasaan kolonial secara langsung di sepanjang Hindia-Belanda, dan dengan itu mendirikan fondasi bagi negara Indonesia saat ini.


Gerakan nasionalisme
Pada 1905 gerakan nasionalis yang pertama, Serikat Dagang Islam dibentuk dan kemudian diikuti pada tahun 1908 oleh gerakan nasionalis berikutnya, Budi Utomo. Belanda merespon hal tersebut setelah Perang Dunia I dengan langkah-langkah penindasan. Para pemimpin nasionalis berasal dari kelompok kecil yang terdiri dari profesional muda dan pelajar, yang beberapa di antaranya telah dididik di Belanda. Banyak dari mereka yang dipenjara karena kegiatan politis, termasuk Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.